sebenarnya kita

  Tak selebat hujan yang turun, bukan juga sederas air mata yang hangat, cuma bau langit menembusi mata yang tidak berdosa, apakah kesalahanku? Aku hanya mengimpikan suara yang bisa menolak aku keluar daripada pandangan visual ke arah alam yang nyata, ternyata kita berbeda, kerana memori sudah puas berlari, penat jatuh daripada mimpi yang salah, lalu ia diludahi, dicerna menjadi sisa buangan yang amat dibenci, lalu kenapakah kita menjadi bisu dan tuli? Kemanakah laluan pelangi bersayap yang sering kita gunakan dahulu, aku mendiskusi bersama bulan yang yang semakin kelam, dihenyuk menjadi origami yang tak setia, sesikitpun ia malu berkata-kata, aku tidak mencintai hujan, meskipun bayunya lembut mendesing melalui liang roma kulit, aku mencintai pelangi, kerana pelangi yang tidak sesempurna bintang akhirnya sempurnakan aku, aku sebagai akuvyang cintakan aku dan akhirnya menjadi peeindu di waktu malam, aku tahu kedengkian langit malam yang begitu cemburu akan si penoda hari, ia memisahkan siang dan malam, sepertimana dia memisahkan kita, sehingga aku tak kenal kau, dan kau juga begiru, dan apabila bulan dan bintang berpisah jauh, sama seperti kita, ia hilang melalui melodi kiriman angin, langsung terhapus begitu sahaja, seperti hujan menangisi kekasih, akhirnya, air mata hujan pun turun melebati hati kekasih, kini walaupun pelangi sudah tiada lagi, namun pembiasan cahaya masih tetap di hati, menanti pelangi tujuh warna itu kembali, seperti dahulu.... 

Hehehe... This is my first post... Kisah mengenai perdebatan hati yang entah  ,mungkin hanya aku seorang yang merasainya, lalu aku tukarkan menjadi,...mau cakap puisi pun bukan puisi juga, entahlah, tapi inilah gaya penulisan yang menarik bagi aku... Lagipun masih baru baini, belum pro lagi... Nanti ada apa apa akan diupdate dari masa ke masa... In Sha Allah.. 

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Bingung

Ilusi Datang Lagi